Michan's Bookshelf

Generasi 3G
Membongkar Jamaah Islamiyah : Pengakuan Mantan Anggota JI
ga-gi-gu Gigi
Drunken Monster: Kumpulan Kisah Tidak Teladan
Drunken Molen: Kumpulnya Kisah Tidak Teladan
Drunken Mama: Keluarga Besar Kisah-kisah Non Teladan
Drunken Marmut: Ikatan Perkumpulan Cerita Teladan
Kata Hati
Joker: Ada Lelucon di Setiap Duka
Bintang Bunting
Kedai 1001 Mimpi: Kisah Nyata Seorang Penulis yang Menjadi TKI
Arigatou, Nippon: Sebuah Cerita Tentang Jepang
My Sister's Voice
Room
Perkara Mengirim Senja
Cado-cado: Catatan Dodol Calon Dokter
Cado-Cado Kuadrat
Cado Cado 3 - Susahnya Jadi Dokter Muda
Asoi Geboi Bohai
GOKIL! Sebuah Kompilasi Kedodolan


Mita Supardi's favorite books »

amor escrito

Bukan tentang kemarin yang tidak bisa terulang, bukan juga untuk besok yang penuh dengan kecemasan, tapi aku ada untuk hari ini, memberi hidup untuk hidup, dan melakukan yang terbaikku untuk hari ini." —Mita Michan Supardi

  • 17th September
    2014
  • 17

Sebuah Pagi yang Menyebalkan

Terbangun dengan perasaan yang tidak enak. Hati meyakini bahwa ada hal buruk yang (sudah/akan/sedang) terjadi, tapi kepala berteriak dan berusaha meyakinkan hati, kalau semua baik-baik saja.

Lagi-lagi, ini tugasnya waktu. Tugasnya waktu untuk mengurai semua menjadi penjelasan-penjelasan yang masuk akal. Penjelasan yang membutuhkan logika lebih besar, tanpa harus memberikan empati kepada hati.

Hati, batin, dan koneksi.
Keterikatan batin dengan semesta, sering kali membuat saya berada dalam situasi tidak menyenangkan. Tentang kegelisahan yang menciptakan ragu, lalu mewujud.

Hai, pagi….
Biarkan saya dalam ketidaktahuan saja. Biarkan saya punya afirmasi kalau semua memang baik-baik saja.

Terima kasih :)

  • 16th September
    2014
  • 16
duduk di sebuah kedai sederhana berbudaya, dengan daftar harga menu yang arogan. beberapa meja di belakang saya, para budayawan dan pekerja seni sedang berbicara. suara mereka berdengung. hingga saya tak bisa benar-benar tahu, topik pembicaraan apa yang sedang mereka bahas.

duduk di sebuah kedai sederhana berbudaya, dengan daftar harga menu yang arogan. beberapa meja di belakang saya, para budayawan dan pekerja seni sedang berbicara. suara mereka berdengung. hingga saya tak bisa benar-benar tahu, topik pembicaraan apa yang sedang mereka bahas.

  • 15th September
    2014
  • 15

Anciana

Ini cerita tentang Anciana dari Spanyol. Tentang Anciana yang takut tua dan kesepian. 

Anciana dan Ibu Kota itu seperti anak kembar. Mencoba tetap gempita, sekalipun termakan usia. Bersembunyi di bawah kerlip warna warni kota, menyimpan sepi dalam hati sendiri. 

*

Semua jemarinya sudah tak lagi cukup menghitung berapa usianya. Termasuk ketika ia menambahkan sepuluh jari lagi. Yang jelas, semua kerut dan keriput tipis sudah menghiasi wajahnya. Gerak tubuhnya masih lincah, itu karena dipaksakan begitu. Semuanya supaya dia tak dipandang sebagai seseorang yang menyedihkan. 

Anciana memang sebegitunya takut tua. Dia sendiri pun tahu. Itulah mengapa dia semakin menyibukkan diri dengan banyak hal. Supaya semuanya tersamar,

Baginya, tak perlu ada yang sadar perubahan itu. Kasihan Anciana. Kasihan….

  • 5th September
    2014
  • 05
Untuk pertanyaan yang belum siap kau terima jawabannya, jangan pernah kau berani menanyakannya.
Amor Escrito
  • 4th September
    2014
  • 04
  • 22nd August
    2014
  • 22
  • 22nd August
    2014
  • 22
Pekan lalu, saya memandang barisan gedung tinggi ini dalam perjalanan. Lalu, saya tersenyum. Saya tahu, kalau pemandangan ini, sudah menjadi “rumah” saya.

Pekan lalu, saya memandang barisan gedung tinggi ini dalam perjalanan. Lalu, saya tersenyum. Saya tahu, kalau pemandangan ini, sudah menjadi “rumah” saya.

  • 22nd August
    2014
  • 22

#BattleNulis Dadakan Setelah Jam Kerja

Hasil dari mengantor yang pindah ke PIM dan jam kerja yang sudah selesai. Sambil menunggu jam kemacetan, Aci (Dept.Promosi GagasGroup) ngajakin #BattleNulis antara saya, Edo (editor Bukune), dan Dimas (Dept.Promosi GagasGroup) buat menulis cerita dalam waktu 15 menit.

Ceritanya bebas, tapi merujuk ke satu objek yang sudah disepakati bersama. Lalu, tersebutlah seorang Mas berbaju merah yang duduk sendirian di kedai kopi tempat kami berada, untuk dijadikan objek cerita.

Dan berikut cerita yang saya tulis bebas dalam 15 menit. Ps: Belum diedit, Gais! Jadi, maafkan untuk ketidaknyamannya. Hehehehe~

Read More

  • 11th August
    2014
  • 11
Berani foto tanpa makeup. Laaah, tiap hari juga kagak pernah pake. Hehehe~

Berani foto tanpa makeup. Laaah, tiap hari juga kagak pernah pake. Hehehe~

  • 11th August
    2014
  • 11
This is how me and him spend our weekend. We have a lovely saturday night like this. Talking, laughing, and eating much.

This is how me and him spend our weekend. We have a lovely saturday night like this. Talking, laughing, and eating much.

  • 11th August
    2014
  • 11
  • 11th August
    2014
  • 11

Jangan Mau Seperti Pohon Pisang

Dari judulnya juga sudah jelas. Jangan mau disamain kayak pohon pisang. Punya jantung, nggak punya hati. 

Berbuat baik kepada siapa saja itu emang bagus, sih. Bahkan, sebagai makhluk sosial, untuk menciptakan kedamaian pun adalah dengan berbuat baik. 

Selama masih pada tempatnya, sih, nggak masalah. Tapi, kadang ada hal yang menyebalkan terjadi. Contohnya adalah ketika bertemu dengan orang-orang yang ‘hobi’ memanfaatkan kebaikan orang lain dengan tidak pada tempatnya.

Ada orang baik itu, kan, bukan untuk ‘disalahgunakan’ kebaikannya. Macam istilah ‘dikasih hati, minta jantung’. Kasih aja jantung pisang! Hehehehe….

Sebelum ‘memanfaatkan’ kebaikan orang lain, ada baiknya juga kok untuk memikirkan situasi dan kondisi orang yang mau kita ‘manfaatin’ tersebut. Berpikir dengan kemungkinan paling sederhana saja dulu, seperti “kira-kira (hal) yang kita manfaatin ini bakal bikin dia (orang baik) ini susah, nggak ya?” Atau kalau memang kita sendiri punya bayangan itu bakal nyusahin orang lain, kenapa juga harus diambil keputusannya.

Tapi, seringnya sih orang yang punya tipe menyalahgunakan kebaikan orang lain itu emang kayak pohon pisang. Tidak punya keberatan apa pun atas tindakan mereka sendiri. Mereka nggak peduli terhadap orang lain bakal susah atau enggak dengan kelakuan mereka. 

Sering kali juga mereka nggak sadar soal itu. Kalau kelakuan mereka pun pasti ada yang memperhatikan (sekalipun diam-diam). Jadi, solusinya, kalau ketemu sama tipe orang macam itu, mendingan kita sendiri yang ubah sikap. Karena kita emang nggak bisa berharap banyak untuk orang macam itu berubah, kan? Jadinya, mending kita yang berubah… supaya orang macam itu paham untuk nggak seenak jidat manfaatin kebaikan kita. 

Hal paling penting, sih, mendingan tetap hati-hati dalam bersikap. Jangan lupa juga untuk buka lebar pintu maaf dan ikhlas. Maaf kepada diri sendiri untuk tidak jadi pelaku ‘pohon pisang’ atau jadi orang yang dimanfaatin sama manusia macam tadi. Hehehe~ 

  • 3rd August
    2014
  • 03
Selama setahun lebih, saya sama sekali tak menyentuh Beno. Karena dia di Bandung dan saya di Jakarta. Pun saya sedang pulang ke Bandung, rupa Beno sering kali tak terjangkau mata. Jadinya, saya sering gagal bertemu dengannya.

Saya dan Beno dekat dan bersama di tahun 2008. Saat itu, dia yang paling menarik hati saya. Beno juga pernah ikut saya keliling kota di Pulau Jawa untuk talk show buku pertama saya. Dia mengiringi saya yang bernyanyi.

Beno, merindukan saya, pasti. Karena jemari saya pun sudah lama tak kapalan gara-gara main gitar.

Sekarang, Beno sudah di Michi’s Spaceship rumah Jakarta. Tentunya bersama saya. Dan akan ada hari-hari selain baca buku atau komik, menggambar, dan nonton serial, yaitu bermain dengan Beno.

Hihihi~ Semoga saya tidak banyak lupa soal kunci dan bagaimana memainkannya. Tidak perlu jago, asalkan memainkannya bisa dinikmati.

Baiklah…. Sekian cerita dari saya tentang Beno yang “pulang” kembali.

Selama setahun lebih, saya sama sekali tak menyentuh Beno. Karena dia di Bandung dan saya di Jakarta. Pun saya sedang pulang ke Bandung, rupa Beno sering kali tak terjangkau mata. Jadinya, saya sering gagal bertemu dengannya.

Saya dan Beno dekat dan bersama di tahun 2008. Saat itu, dia yang paling menarik hati saya. Beno juga pernah ikut saya keliling kota di Pulau Jawa untuk talk show buku pertama saya. Dia mengiringi saya yang bernyanyi.

Beno, merindukan saya, pasti. Karena jemari saya pun sudah lama tak kapalan gara-gara main gitar.

Sekarang, Beno sudah di Michi’s Spaceship rumah Jakarta. Tentunya bersama saya. Dan akan ada hari-hari selain baca buku atau komik, menggambar, dan nonton serial, yaitu bermain dengan Beno.

Hihihi~ Semoga saya tidak banyak lupa soal kunci dan bagaimana memainkannya. Tidak perlu jago, asalkan memainkannya bisa dinikmati.

Baiklah…. Sekian cerita dari saya tentang Beno yang “pulang” kembali.

  • 15th July
    2014
  • 15
Suatu pagi di setahun lalu….

Duduk di bagian belakang bus Trans Jakarta. Saat itu masih pagi. Kamu bilang, “Lucu, nih. Kita ada di sini.”

Lalu, karena kondisi dalam bus hanya ada sopir, petugas penjaga dalam armada, dan kami… so, I took a selfie pic with him.



Jakarta, Juli 2013

Suatu pagi di setahun lalu….

Duduk di bagian belakang bus Trans Jakarta. Saat itu masih pagi. Kamu bilang, “Lucu, nih. Kita ada di sini.”

Lalu, karena kondisi dalam bus hanya ada sopir, petugas penjaga dalam armada, dan kami… so, I took a selfie pic with him.

Jakarta, Juli 2013

  • 15th July
    2014
  • 15